HPK taruh disini
Zinedine Zidane memutuskan untuk mengakhiri jabatan kepelatihannya di Real Madrid. Keputusan yang bisa dikatakan mengejutkan. Ya, belum genap seminggu pelatih berdarah Aljazair itu sukses mempersembahkan trofi Liga Champions ketiganya untuk El Real.
Jika ditotal, cuma dua setengah tahun romansa keduanya terjalin. Waktu yang terbilang singkat. Akan tetapi, bukankah terkadang kenangan tak mengenal periode?
Jika ditotal, cuma dua setengah tahun romansa keduanya terjalin. Waktu yang terbilang singkat. Akan tetapi, bukankah terkadang kenangan tak mengenal periode?
Yang menarik, cerita Zidane dan Madrid tak melulu tentang kemenangan dan gelar juara. Sebagai pelatih yang kerap menunjukkan mimik dingin, Zidane pada kenyataannya juga bisa menjadi pelawak kelas kakap di pinggir lapangan. Sebagai juru taktik yang disegani, Zidane juga pernah gagal membawa timnya menang melawan tim yang secera hitung-hitungan ada di bawah mereka.
Nah, demi mengenang-kenang sepak bola Zidane sebagai bagian dari kejayaan Santiago Bernabeu, kumparanBOLA juga merangkum momen-momen tak terlupakan Zidane di sepanjang perjalanan kepelatihannya bersama Madrid, yang tetap indah walaupun prematur.
Celana Sobek
Selain para pemain, pelatih juga menjadi representasi klub di arena pertandingan. Maka tak ayal, jika beberapa pelatih memilih untuk berpakaian rapi saat mengatur anak asuhnya dari pinggir lapangan, meski ada juga yang memutuskan untuk tampil sporty.
Nah, Zidane memiliki cerita konyol menyoal penampilan. Bukannya tampil elegan, Zidane justru berubah wujud menjadi 'komedian' lapangan hijau. Celana yang dipakainya sobek lantaran Zidane terlalu ekspresif dalam meluapkan emosi.
Insiden itu terjadi saat Karim Benzema menyia-nyiakan peluang emasnya ke gawang Wolfsburg di leg kedua babak perempat final Liga Champions dua musim silam. Walau demikian, insiden celana sobek itu terbayarkan lewat kemenangan 3-0 anak asuhnya atas wakil Jerman tersebut.
Lucunya, bukan cuma sekali Zidane mengalami kejadian macam ini. Beberapa minggu berselang, celananya kembali sobek saat Madrid bersua dengan Manchester City di leg pertama semifinal Liga Champions.
Kekalahan dari Leganes
Kepercayaan diri tinggi bisa jadi bumereng, itulah hikmah yang bisa diambil Zidane dari tersingkirnya Madrid di perempat final Copa del Rey musim ini. El Real tampil dengan membawa optimisme saat menjamu Leganes di leg kedua. Madrid sudah unggul satu gol pada pertemuan pertama, disusul dengan kemenangan meyakinkan 7-1 atas Deportivo La Coruna di pentas La Liga.
Akan tetapi, hasil pertandingan benar-benar di luar dugaan. Lewat gol Javier Eraso, Leganes berhasil mengejutkan Madrid yang tampil dengan skuatnya pelapisnya.
Publik Santiago Bernabeu sempat bersorak kala Karim Benzema mencetak gol balasan di awal babak kedua. Namun, Gabriel Pires berhasil membawa Leganes unggul untuk kedua kalinya, sekaligus menyingkirkan Madrid dengan agregat gol tandang.
"Yang terburuk di tahun ini adalah saat kalah dalam pertandingan melawan Leganés di leg kedua Copa del Rey. Saya tidak perlu menjelaskannya, kalian sudah mengerti akan hal itu," ujar Zidane seperti dilansir Independent. Lewat kalimat tersebut, sekali lagi Zidane menegaskan, tim sekelas Madrid pun bisa mengganjarnya dengan kekecewaan.
Hat-trick 'Si Kuping Besar'
Keberhasilan Madrid menaklukkan Liverpool di final Liga Champions 2017/2018 akhir pekan lalu menjadi puncak sekaligus akhir dari pengabdian Zidane kepada Los Galacticos. Namanya tercatat sebagai atu-satunya pelatih yang sukses mengantarkan tiga trofi Liga Champions secara beruntun.
Gelar perdananya datang saat Madrid menyudahi perlawanan rival sekotanya, Atletico Madrid, via babak adu penalti dengan skor 5-3. Musim 2016/2017 lebih dramatis. Mau tak mau, Zidane harus meladeni mantan klubnya, Juventus. Namun, tak ada halangan berarti, Madrid unggul dengan skor mencolok 4-1.
Sumber : kumparan.com

